Ia melangkahkan kakinya dengan ringan, seringan berjalan di atas awan, menghampiri laki-laki itu yang sekali lagi menjadi tambatan hatinya. Ia duduk di sebelahnya dan memberikan laki-laki itu senyuman termanisnya. Laki-laki itu balas tersenyum dan memeluknya. Ia mencium bibir laki-laki itu dengan penuh rasa sayang dan keinginan.
Lalu di kepalanya berkelebat bayangan wajah beberapa temannya,
"Inget, keledai aja ngga jatuh ke lubang yang sama dua kali."
Wajah-wajah itu lalu berganti menjadi wajah ibunya yang penuh kebijakan,
"Kamu ati-ati ya, mama ngga mau kamu sakit hati lagi."
Ia otomatis menarik wajahnya menjauh dari wajah laki-laki itu. Ia menatap jauh ke dalam matanya. Kosong. Tidak ada cinta disitu.
"Kamu ngga sayang aku. Kita jadian hanya semata-mata untuk jadian. Jadian tanpa rasa."
"Maksud kamu apa?" laki-laki itu tiba-tiba menjadi marah.
"Kenapa kamu jadi marah?" tanyanya. "Kamu memang ngga sayang aku kan?"
"Kamu jangan cari-cari alasan deh!" seru laki-laki itu.
"Sudah. Aku muak kamu sakiti terus. Kita putus saja," dan ia berjalan menjauh.
Laki-laki itu mengejarnya dan memaki. Ia berbalik dan tanpa sadar tangannya melayang ke pipi laki-laki itu. Laki-laki itu tertegun dan tangannya terangkat hendak memukul balik tetapi ia urungkan niatnya. Laki-laki itu terlihat terkejut dengan reaksinya sendiri.
"Kamu memang ngga sayang aku," tandasnya dengan mata berkaca-kaca. Ia pun meneruskan langkahnya dan laki-laki itu tidak mengejar. Itulah akhir kisah mereka, dan ia tidak pernah bertemu atau mendengar tentangnya lagi.