. . . aku terus menunggu dengan perasaan kecewa yang semakin mendalam. Aku melihat pesawat telepon di genggamanku. 'Mungkin aku takkan mendengar suaranya malam ini.'
Hari yang berat. Aku hanya berharap akan ada yang mendengarkan letihku. Atau mungkin aku harus beranjak dewasa dan memikul segalanya dalam hati. S e n d i r i.
'Masih ada hari esok,' pikirku. Matahari akan terbit dan telepon itu akan berdering, dengan suaranya di ujung sana.
Laki-laki itu.